PUSKESMAS
PLAYEN II
VISI
DAN MISI UPT PUSKESMAS PLAYEN II TAHUN 2010
VISI
:
Sebagai
penggerak pembangunan kesehatan di wilayah kerja UPT Puskesmas Playen II untuk
mewujudkan masyarakat yang sehat dan mandiri
MISI
:
- Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta untuk tercapainya kemandirian masyarakat di bidang kesehatan.
- Menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan yang paripurna, merata, bermutu dan berkeadilan
- Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan
- Menciptakan tata kelola pelayanan kesehatan yang baik
STRATEGI :
- Meningkatkan pemberdayaan masyarakat dan swasta dalam pembangunan kesehatan melalui kerja sama lintas program dan lintas sektoral
- Meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata, terjangkau, bermutu dan berkeadilan, serta berbasis bukti, menyeluruh dengan pengutamaan pada upaya promotif dan preventif.
- Meningkatkan cakupan pembangunan kesehatan, melalui pendanaan yang ada di puskesmas dan masyarakat
- Meningkatkan pengembangan dan pendayagunaan SDM kesehatan yang merata dan bermutu.
- Meningkatkan ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan obat dan alat kesehatan serta menjamin keamanan, khasiat, kemanfaatan, dan mutu sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan.
- Meningkatkan manajemen kesehatan yang akuntabel, transparan berdayaguna dan berhasilguna untuk memantapkan pelayanan kesehatan yang bertanggungjawab
BENTUK KEGIATAN :
- Meningkatkan pemberdayaan masyarakat dan swasta dalam pembangunan kesehatan melalui kerja sama lintas program dan lintas sektoral
- Mengoptimalkan koordinasi dan jejaring lintas sektoral dan lintas program di tingkat kecamatan
- Membuat jejaring dengan lembaga di tingkat desa dalam rangka implementasi program kesehatan.
- Membuat jejaring dengan kader sebagai pelaksana program kesehatan di masyarakat
- Membina posyandu, desa siaga yang telah ada di masyarakat
- Meningkatkan jejaring pelayanan kesehatan di sekolah ataupun pondok pesantren
- Meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata, terjangkau, bermutu dan berkeadilan, serta berbasis bukti, menyeluruh dengan pengutamaan pada upaya promotif dan preventif.
- Mengoptimalkan bentuk pelayanan kesehatan sesuai dengan fasilitas yang tersedia
- Mengoptimalkan peran SDM sesuai tupoksi pelayanan yang ada
- Melengkapi fasilitas penunjang pelayanan medis secara bertahap sesuai perkembangan jaman
- Memberikan pelayanan kesehatan sesuai standar
- Melaksanakan rujukan horizontal dalam rangka meningkatkan peran klinik sehat, dengan tetap memberikan pelayanan rujukan vertikal sesuai standar.
- Meningkatkan koordinasi antar unit pelayanan
- Meningkatkan cakupan pembangunan kesehatan, melalui pendanaan yang ada di puskesmas dan masyarakat
- Mendorong masyarakat untuk mendukung pendanaan kesehatan yang bersumber dari masyarakat
- Merencanakan anggaran kegiatan kesehatan yang sesuai dengan permasalahan yang ada di masyarakat
- Mendukung pencapaian SPM (Standar Pelayanan Minimal) melalui dana yang ada.
- Meningkatkan pengembangan dan pendayagunaan SDM kesehatan yang merata dan bermutu.
- Melaksanakan transfer ilmu (kalakarya) dari SDM yang mengikuti pelatihan kepada rekan-rekan lainnya.
- Membuat peta jabatan sesuai dengan kompetensi yang ada
- Melaksanakan analisis beban kerja dan mutasi internal
- Meningkatkan ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan obat dan alat kesehatan serta menjamin keamanan, khasiat, kemanfaatan, dan mutu sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan.
- Mengoptimalkan peran apotek dan gudang obat dalam pelayanan kesehatan
- Mengoptimalkan monitoring dan evaluasi penggunaan obat pelayanan kesehatan
- Mengoptimalkan pencatatan dan pelaporan obat dan alkes
- Merencanakan kebutuhan obat dan alkes secara rutin
- Meningkatkan manajemen kesehatan yang akuntabel, transparan berdayaguna dan berhasilguna untuk memantapkan pelayanan kesehatan yang bertanggungjawab
- Melaksanakan monitoring dan evaluasi terpadu setiap bulan
- Menanggapi dengan segera setiap keluhan konsumen yang disampaikan
- Melaksanakan lokmin tribulanan secara rutin


BAB I
PENDAHULUAN
- LATAR BELAKANG
Dalam
rangka pemerataan pelayanan kesehatan dan pembinaan kesehatan masyarakat telah
di bangun puskesmas. Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan
kabupaten / kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan
di suatu wilayah kerja tertentu. Puskesmas berfungsi sebagai :
- Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan .
- Pusat pemberdayaan keluarga dan masyarakat.
- Pusat pelayanan kesehatan strata pertama.
Untuk
menunjang pelaksanaan fungsi dan penyelenggaraan upayanya, puskesmas dilengkapi
dengan instrumen manajemen yang terdiri dari :
- Perencanaan tingkat Puskesmas
- Lokakarya Mini Puskesmas
- Penilaian Kinerja Puskesmas Dan Manajemen Sumber Daya termasuk alat, obat, keuangan dan Tenaga serta didukung dengan manajemen sistem pencatatan dan pelaporan disebut sistem informasi manajemen Puskesmas (SIMPUS) dan upaya peningkatan mutu pelayanan ( antara lain melalui penerapan quality assurance ).
Mempertimbangkan
rumusan pokok-pokok program dan program-program unggulan sebagaimana disebutkan
dalam Rencana Strategis Departemen Kesehatan dan program spesifik daerah, maka
area program yang akan menjadi prioritas di suatu daerah, perlu dirumuskan
secara spesifik oleh daerah sendiri demikian pula strategi dalam pencapaian
tujuannya, yang harus disesuaikan dengan masalah, kebutuhan serta potensi
setempat.
Puskesmas
merupakan ujung tombak terdepan dalam pembangunan kesehatan, mempunyai peran
cukup besar dalam upaya mencapai pembangunan kesehatan. Untuk mengetahui
tingkat kinerja Puskesmas, perlu diadakan Penilaian Kinerja Puskesmas.
B. PENGERTIAN PENILAIAN KINERJA PUSKEMAS
Penilaian
kinerja Puskesmas adalah suatu upaya untuk melakukan penilaian hasil kerja /
prestasi Puskesmas.
Pelaksanaan
penilaian dimulai dari tingkat Puskesmas sebagai instrumen mawas diri karena
setiap Puskesmas melakukan penilaian kinerjanya secara mandiri, kemudian Dinas
Kesehatan Kabupaten / Kota melakukan verifikasi hasilnya. Adapun aspek
penilaian meliputi hasil pencapaian cakupan dan manajemen kegiatan termasuk
mutu pelayanan (khusus bagi Puskesmas yang telah mengembangkan mutu pelayanan)
atas perhitungan seluruh Puskesmas. Berdasarkan hasil verifikasi, dinas
kesehatan kabupaten / kota bersama Puskesmas dapat menetapkan Puskesmas kedalam
kelompok (I,II,III) sesuai dengan pencapaian kinerjanya.Pada setiap kelompok
tersebut, dinas kesehatan kabupaten/kota dapat melakukan analisa tingkat
kinerja puskesmas berdasarkan rincian nilainya, sehingga urutan pencapian
kinerjanya dapat diketahui, serta dapat dilakukan pembinaan secara lebih
mendalam dan terfokus.
C. TUJUAN DAN MANFAAT PENILAIAN KINERJA PUSKESMAS
- Tujuan
- Tujuan Umum
Tercapainya tingkat kinerja puskesmas yang berkualitas
secara optimal dalam mendukung pencapaian tujuan pembangunan kesehatan
kabupaten / kota.
b. Tujuan Khusus
1). Mendapatkan gambaran tingkat pencapaian hasil cakupan
dan mutu kegiatan serta manajemen puskesmas pada akhir tahun kegiatan.
2). Mengetahui tingkat kinerja puskesmas pada akhir tahun
berdasarkan urutan peringkat kategori kelompok puskesmas.
3). Mendapatkan informasi analisis kinerja puskesmas dan
bahan masukan dalam penyusunan rencana kegiatan puskesmas dan dinas kesehatan
kabupaten/kota untuk tahun yang akan datang.
- 2. Manfaat Penilaian Kinerja Puskesmas :
- Puskesmas mengetahui tingkat pencapaian (prestasi) kunjungan dibandingkan dengan target yang harus dicapai.
- Puskesmas dapat melakukan identifikasi dan analisis masalah, mencari penyebab dan latar belakang serta hambatan masalah kesehatan di wilayah kerjanya berdasarkan adanya kesenjangan pencapaian kinerja puskesmas (out put dan out come)
- Puskesmas dan dinas kesehatan kabupaten/kota dapat menetapkan tingkat urgensi suatu kegiatan untuk dilaksanakan segera pada tahun yang akan datang berdasarkan prioritasnya.
- Dinas kesehatan kabupaten/kota dapat menetapkan dan mendukung kebutuhan sumber daya puskesmas dan urgensi pembinaan puskesmas.
D. RUANG LINGKUP PENILAIAN KINERJA PUSKESMAS
Ruang
lingkup kinerja puskesmas meliputi penilaian pencapaian hasil pelaksanaan
pelayanan kesehatan, manajemen puskesmas dan mutu pelayanan. Penilaian
terhadap kegiatan upaya kesehatan wajib puskesmas yang telah ditetapkan di
tingkat kabupaten/kota dan kegiatan upaya kesehatan pengembangan dalam rangka
penerapan tiga fungsi puskesmas yang diselenggarakan melalui pendekatan
kesehatan masyarakat, dengan tetap mengacu pada kebijakan dan strategi untuk
mewujudkan visi ” Indonesia Sehat 2010.
BAB II
PELAKSANAAN PENILAIAN KINERJA
PELAKSANAAN PENILAIAN KINERJA
- BAHAN DAN PEDOMAN
Bahan
yang dipakai pada penilaian kinerja puskesmas adalah hasil pelaksanaan
pelayanan kesehatan, manajemen puskesmas dan mutu pelayanan. Sedangkan dalam
pelaksanaannya mulai dari pengumpulan data, pengolahan data, analisis hasil /
masalah sampai dengan penyusunan laporan berpedoman pada Buku Pedoman Penilaian
Kinerja Puskesmas dari Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Departemen
Kesehatan R.I. tahun 2006.
B. TEKNIS PELAKSANAAN
Teknis
pelaksanaan penilaian kinerja UPT Puskesmas Playen II tahun 2010, sebagaimana
berikut di bawah ini:
1. Pengumpulan Data.
Pengumpulan data dilaksanakan dengan memasukkan data hasil
kegiatan puskesmas tahun 2009 ( Januari s.d Desember 2009 ) dengan variabel dan
sub variabel yang terdapat dalam formulir penilaian kinerja puskesmas tahun
2009.
2. Pengolahan Data.
Setelah proses pengumpulan data selesai, dilanjutkan dengan
penghitungan sebagaimana berikut di bawah ini :
1.
Penilaian
Cakupan Kegiatan Pelayanan Kesehatan
Cakupan sub variabel (SV) dihitung dengan membagi hasil
pencapaian (H) dengan target sasaran (T) dikalikan 100 atau SV (%) = H x
100%
T
Cakupan variabel (V) dihitung dengan menjumlah seluruh nilai
sub variabel (ΣSV ) kemudian dibagi dengan jumlah variabel ( n ) atau
V (%) = Σ SV
n
Jadi nilai cakupan kegiatan pelayanan kesehatan adalah
rerata per jenis kegiatan. Kinerja cakupan pelayanan kesehatan dikelompokkan
menjadi tiga, yaitu :
1.
Kelompok I (kinerja baik)
: Tingkat pencapaian hasil ≥ 91 %
2.
Kelompok II (kinerja cukup)
: Tingkat pencapaian hasil 81 – 90 %
3.
Kelompok III (kinerja kurang)
:Tingkat pencapaian hasil ≤ 80 %
b. Penilaian Kegiatan Manajemen Puskesmas
Penilaian
kegiatan manajemen puskesmas dikelompokkan menjadi empat
kelompok :
1.
Manajemen Operasional Puskesmas
2.
Manajemen alat dan obat
3.
Manajemen keuangan
4.
Manajemen ketenagaan
Penilaian
kegiatan manajemen puskesmas dengan mempergunakan skala nilai sebagai berikut :
·
Skala 1 nilai 4
·
Skala 2 nilai 7
·
Skala 3 nilai 10
Nilai
masing-masing kelompok manajemen adalah rata-rata nilai kegiatan masing-masing
kelompok manajemen.
Cara Penilaian :
1.
Nilai manajemen dihitung sesuai
dengan hasil pencapaian Puskesmas dan dimasukkan ke dalam kolom yang sesuai.
2.
Hasil nilai skala di masukkan ke
dalam kolom nilai akhir tiap variabel
3.
Hasil rata – rata dari penjumlahan
nilai variabel dalam manajemen merupakan nilai akhir manajemen
4.
Hasil rata-rata dikelompokkan
menjadi :
Baik : Nilai
rata – rata > 8,5
Cukup : Nilai
5,5 – 8,4
Kurang :
Nilai < 5,
c.
Penilaian mutu pelayanan
Cara Penilaian :
1.
Nilai mutu dihitung sesuai dengan
hasil pencapaian Puskesmas dan dimasukkan ke dalam kolom yang sesuai.
2.
Hasil nilai skala di masukkan ke
dalam kolom nilai akhir tiap variabel
3.
Hasil rata – rata nilai variabel
dalam satu komponen merupakan nilai akhir mutu
4.
Nilai mutu dikelompokkan menjadi :
*
Baik : Nilai rata – rata >
8,5
*
Cukup : Nilai 5,5 – 8,4
*
Kurang : Nilai < 5,
BAB
III
HASIL
KINERJA UPT PUSKESMAS PLAYEN II
TAHUN
2010
Hasil
Kinerja Puskesmas Playen II Tahun 2010 berdasarkan data tahun 2009 dapat kami
sajikan sebagaimana berikut ini:
A. Hasil kinerja pelayanan kesehatan
1. Upaya Kesehatan Wajib
Tabel 1.
Hasil Pencapaian Kinerja Upaya Kesehatan Wajib UPT Puskesmas Playen II Tahun
2010
NO
|
KOMPONEN KEGIATAN
UPAYA KESEHATAN WAJIB
|
HASIL CAKUPAN (%)
|
TINGKAT KINERJA
|
KETERANGAN
|
1
|
UPAYA PROMOSI
KESEHATAN
|
79%
|
Kurang
|
Baik ≥ 91 %
|
2
|
UPAYA KESEHATAN
LINGKUNGAN
|
92%
|
Baik
|
Cukup ≥81-90 %
|
3
|
UPAYA KESEHATAN IBU
DAN ANAK TERMASUK KB
|
96%
|
Baik
|
Kurang≤ 80%
|
4
|
UPAYA PERBAIKAN GIZI
MASYARAKAT
|
93%
|
Baik
|
|
5
|
UPAYA PENCEGAHAN DAN
PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR
|
80%
|
Kurang
|
|
6
|
UPAYA PENGOBATAN
|
97,45%
|
Baik
|
|
Rata-rata Kinerja
|
90%
|
Cukup
|
||
1.
Upaya
Kesehatan Pengembangan
Tabel 2. Hasil Pencapaian Kinerja
Upaya Kesehatan Pegembangan UPT Puskesmas Playen II Tahun 2010
NO
|
KOMPONEN KEGIATAN
UPAYA KESEHATAN PENGEMBANGAN
|
HASIL CAKUPAN (%)
|
TINGKAT KINERJA
|
KETERANGAN
|
1
|
Upaya Kesehatan Usia
Lanjut
|
83%
|
CUkup
|
Baik ≥ 91 %
|
2
|
Upaya Kesehatan Mata /
Pencegahan Kebutaan
|
100%
|
Baik
|
Cukup ≥81-90 %
|
3
|
Upaya Kesehatan
Telinga / Pencegahan Gangguan pendengaran
|
100%
|
Baik
|
Kurang≤ 80%
|
4
|
Kesehatan Jiwa
|
40%
|
Kurang
|
|
5
|
Pencegahan dan
penanggulangan penyakit gigi
|
83%
|
Cukup
|
|
6
|
Perawatan Kesehatan
Masyarakat
|
100%
|
Baik
|
|
Rata-rata Kinerja
|
84%
|
Cukup
|
||
Nilai
cakupan kinerja pelayanan kesehatan adalah : rata – rata nilai upaya kesehatan
wajib dan upaya kesehatan pengembangan, atau dengan kata lain nilai pencapaian
upaya kesehatan wajib + pengembangan dibagi dua.
Jadi
Nilai Kinerja cakupan pelayanan kesehatan UPT Puskesmas Playen II adalah : 85,5
% (cukup)
B.
Hasil Kinerja Kegiatan Manajemen UPT Puskesmas Playen II
Tabel 3. Hasil Pencapaian Kinerja
Manajemen UPT Puskesmas Playen II Tahun 2010
NO.
|
KOMPONEN MANAJEMEN
PUSKESMAS
|
CAKUPAN KEGIATAN
|
TINGKAT KINERJA
|
KETERANGAN
|
1
|
MANAJEMEN OPERASIONAL
PUSKESMAS
|
8,71
|
baik
|
Baik ≥ 8,5
|
2
|
MANAJEMEN ALAT DAN
OBAT
|
7,6
|
sedang
|
Cukup ≥ 5,5 – 8,4
|
3
|
MANAJEMEN KEUANGAN
|
10
|
baik
|
Kurang < 5,5
|
4
|
MANAJEMEN KETENAGAAN
|
9,25
|
baik
|
|
Rata-rata
|
8,89
|
baik
|
Jadi
hasil kinerja kegiatan manajemen puskesmas Playen II tahun 2009 adalah : 8,89
(Kinerja Baik )
- Hasil Kinerja Mutu Pelayanan Kesehatan UPT Puskesmas Playen II
Tabel. 4.
Hasil Pencapaian Kinerja Mutu Pelayanan Kesehatan UPT Puskesmas Playen II Tahun
2010
No
|
JENIS KEGIATAN
|
Cakupan
|
Nilai
|
Tingkat Kinerja
|
1
|
Drop out pelayanan ANC
(K1-K4)
|
0%
|
10
|
Baik
|
2
|
Persalinan oleh tenaga
kesehatan
|
98,97%
|
10
|
Baik
|
3
|
Penanganan komplikasi
obstetri / resiko tinggi
|
100%
|
10
|
Baik
|
4
|
Kepatuhan terhadap
standar ANC
|
100%
|
10
|
Baik
|
5
|
Kepatuhan terhadap
standar pemeriksaan TB Paru
|
100%
|
10
|
Baik
|
6
|
Tingkat Kepuasan
pasien terhadap pelayanan puskesmas
|
96%
|
10
|
Baik
|
Rata-rata nilai
|
10
|
Baik
|
Dengan melihat tabel diatas hasil kinerja mutu pelayanan
kesehatan Puskesmas Playen II tahun 2009 adalah 10 ( termasuk kinerja Baik )
- Hasil Total Kinerja Kegiatan di UPT Puskesmas Playen II Tahun 2010
Tabel. 5.
Hasil Total Kinerja Kegiatan UPT Puskesmas Playen II Tahun 2010
No.
|
Komponen Kegiatan
|
Pencapaian
|
Tingkat Kinerja
|
Keterangan
|
1
|
Pelayanan Kesehatan
|
85,5 %
|
Cukup
|
|
2
|
Manajemen
|
8,89
|
Baik
|
|
3
|
Mutu
|
10
|
Baik
|
|
Rata-rata Kinerja
|
BAB IV
ANALISIS HASIL KINERJA
ANALISIS HASIL KINERJA
- Perbandingan Hasil Kinerja Tahun 2009 dengan Tahun 2010
Belum
dapat dibandingkan karena pada tahun 2009 menggunakan penilaian kinerja dengan
CMI tool.
- Hasil Kinerja Kegiatan (Upaya Kesehatan Wajib Dan Upaya Kesehatan Pengembangan) UPT Puskesmas Playen II Tahun 2010
Dari grafik diatas semua kegiatan belum mencapai 100 %, yang
termasuk kurang yaitu : upaya promosi kesehatan (79 %) dan upaya pencegahan dan
pemberantasan penyakit menular (80 %).
Kemudian dapat kita jabarkan lagi ke dalam pencapaian
kinerja per kegiatan.
Dari grafik di atas terlihat bahwa untuk kegiatan bayi
mendapatkan ASI eksklusif hanya mencapai 20 %, dan kegiatan penyuluhan Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat 90 %.
Terlihat bahwa penyuluhan PHBS yang kurang adalah di
tempat-tempat umum.
Terlihat bahwa kegiatan yang belum mencapai 100 % adalah
kegiatan pengawasan sanitasi tempat-tempat umum 94 % dan penyehatan lingkungan
pemukiman dan jamban keluarga 55 %. Hal ini disebabkan sanitasi tempat-tempat
umum yang memenuhi syarat 89%, pemeriksaan penyehatan lingkungan pada perumahan
55% dari 4948 rumah seharusnya diperiksa.
Untuk kegiatan KIA dan KB, Kesehatan ibu (95 %), Kesehatan
Bayi (100%), Upaya Kesehatan bayi dan Anak Prasekolah (92 %), Upaya Kesehatan
Anak Usia Sekolah dan Remaja (100 %), Pelayanan Keluarga Berencana (94 %).
Untuk Upaya Kesehatan Bayi dan Anak Prasekolah kami belum mengadakan kegiatan
DTKB apras sehingga belum dapat dinilai.
Untuk kegiatan Kesehatan Ibu, Linakes 99%, KN3 99 %, dan
rujukan bumil resti 82 %.
Untuk program gizi, yang belum mencapai 100 % adalah balita
yang naik berat badannya (60%).
Kinerja P2M yang belum mencapai 100% adalah DBD 80 %, dan
ISPA 0 %. Untuk DBD dikarenakan ABJ 60 %, dan untuk ISPA tidak diketemukan
kasus pneumonia.
Untuk Upaya pengobatan 95 %,dikarenakan dari 25547 penduduk,
yang berkunjung dalam tahun 2009 hanya 91 %
Pencapaian kinerja Upaya Kesehatan Pengembangan yang belum
mencapai 100 % adalah Upaya kesehatan Usila 83 %, Kesehatan Jiwa 40 % dan
Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Gigi 83 %. Hal ini dikarenakan tidak
semua kelompok usila yang dibina, dipantau kesehatannya oleh nakes (67 %),
Pembinaan sikat gigi massal di SD/MI 31 %. Untuk keswa dijabarkan pada grafik
di bawah ini :
1.
Hasil
Kinerja Kegiatan Manajemen Puskesmas
Kinerja Manajemen dibagi menjadi 4 variabel, yaitu :
manajemen operasional puskesmas, manajemen alat dan obat, manajemen keuangan,
dan manajemen ketenagaan. Berikut ini gambaran pencapaian kinerja manajemen di
UPT Puskesmas Playen II Tahun 2010.
Terlihat bahwa pencapaian kinerja sebagian besar baik
(>8,5), tetapi masih ada yang sedang yaitu manejemen alat dan obat 7,6
dikarenakan tidak semua ruangan terdapat daftar inventaris barang, dan updating
data alat tidak rutin dilaksanakan.
Untuk kinerja manajemen operasional puskesmas lokmin
tribulanan kurang terlaksana, dan pengiriman laporan masih kurang cepat.
Untuk kinerja manajemen alat dan obat, permasalahan yang ada
yaitu pada masalah inventarisasi barang : tidak terdapat daftar inventaris
barang yang terpasang di ruangan, kemudian updating data inventaris kurang
rutin.
Untuk kinerja manajemen keuangan semuanya baik, tidak ada
masalah.
Untuk kinerja manjemen ketenagaan, belum semua petugas
membuat rencana kerja bulanan.
1.
Hasil
Kinerja Mutu Pelayanan Kesehatan
Untuk kinerja mutu pelayanan kesehatan semua variabel
bernilai baik.
1.
Hasil
Kinerja UPT Puskesmas Playen II Tahun 2010
Tabel 6. Trend Pencapaian Kinerja UPT Puskemas Playen II
NO
|
Jenis
Kegiatan
|
Pencapaian
|
Trend
|
|
Tahun
2009
|
Tahun
2010
|
|||
1
|
Cakupan
Pelayanan Kesehatan
|
85,5 %
|
||
2
|
Manajemen
Puskesmas
|
8,89
|
||
3
|
Mutu
Pelayanan Kesehatan
|
10
|
||
Trend
belum bisa ditentukan karena baru tahun 2010 pedoman penilaian
kinerja
puskesmas dipergunakan.
- IDENTIFIKASI MASALAH DAN ALTERNATIF
PEMECAHAN MASALAH
Dengan
melihat gambaran di atas hasil kinerja kegiatan UPT Puskesmas Playen II tahun
2010 dapat dikategorikan perjenis kegiatan:
1.
Kategori Kinerja Baik
- Upaya Kesehatan Lingkungan
- Kesehatan Ibu & Anak Termasuk KB
-
Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat
-
Upaya Pengobatan
-
Upaya Kesehatan Mata / Pencegahan Kebutaan
-
Upaya kesehatan Telinga / Pencegahan Gangguan Pendengaran
-
Perawatan Kesehatan Masyarakat
2.
Kategori Kinerja Cukup
-
Upaya Kesehatan Usia Lanjut
-
Pencegahan & Penanggulangan Penyakit Gigi
3.
Kategori Kinerja Kurang
-
Promosi Kesehatan
-
Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular
- Kesehatan Jiwa
Selanjutnya
akan dibahas jenis kegiatan yg termasuk kategori kinerja cukup & kurang.
Menentukan penyebab dengan menelusuri variabel & sub variabel :
1.
Penilaian Kinerja Cukup
1.
Upaya Kesehatan Usia Lanjut dengan
nilai 83 %
Permasalahan :
1.
Penanggung jawab program sedang
mengambil ijin belajar DIII kebidanan, sehingga kegiatan posyandu lansia kurang
terpantau
2.
Pendanaan khusus untuk kegiatan
usila tidak ada
3.
Kegiatan posyandu lansia dilakukan
saat siang ataupun sore hari, sehingga petugas usila tidak dapat rutin hadir
untuk ikut pembinaan
4.
Masyarakat yang berusia lanjut, bila
sehat tidak datang ke posyandu, sehingga seakan-akan posyandu usila hanya untuk
berobat saya.
Pemecahan :
5.
Kegiatan posyandu usila dilakukan di
pagi hari atau saat hari libur
6.
Membuat perencanaan kegiatan melalui
dana yang ada di puskesmas maupun di masyarakat. Contoh : Jamkesmas, Jamkesos,
PNPM, Alokasi Dana Desa
7.
Perlu pelatihan untuk kader posyandu
usila, sehingga dapat secara mandiri melaksanakan kegiatan posyandu usila
8.
Perlu adanya sosialisasi ke
masyarakat mengenai peran posyandu usila, dan kegiatan apa saja yang ada di
dalamnya
2.
Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit
Gigi dengan nilai 83 %. Disebabkan oleh : pembinaan dan bimbingan sikat gigi
missal pada SD/MI 31 %.
Permasalahan :
1.
Jumlah SD/MI di UPT Puskesmas Playen
II 25 sekolah, sedangkan petugas UKS juga bertugas di Poli Gigi Puskesmas.
2.
Pendanaan untuk kegiatan UKS hanya
sedikit, tidak dapat mencakup seluruh SD/MI
3.
Belum semua SD dilatih dokter kecil,
sehingga dapat membimbing teman-temannya untuk berPHBS
Pemecahan :
4.
Perlu penjadwalan yang matang,
sehingga semua kegiatan dapat terlaksana
5.
Membuat perencanaan kegiatan melalui
dana yang ada di puskesmas maupun di masyarakat. Contoh : Jamkesmas, Jamkesos,
PNPM, Alokasi Dana Desa
6.
Mengadakan Pelatihan dokter kecil
bagi SD/MI yang belum dilatih dokter kecil
2.
Penilaian Kinerja Kurang
1.
Promosi Kesehatan dengan nilai 79 %.
Disebabkan program bayi mendapatkan ASI Eksklusif 20 %.
Permasalahan :
1.
Petugas kurang mempromosikan
pentingnya ASI Esklusif
2.
Pemerintah kurang tegas untuk
menindak produsen susu yang mempromosikan penggunaan susu formula bagi bayi
usia 0-6 bulan, maupun penyalur (petugas kesehatan) yang memberikan susu
formula pada bayi 0-6 bulan tanpa indikasi medis.
3.
Kurangnya pengetahuan ibu tentang
menyusui, kebanyakan sekarang wanita adalah pekerja sehingga kadang pemberian
ASI eksklusif hanya sampai usia 3 bulan
Pemecahan :
4.
Sosialisasikan ke petugas dan
pemegang program terkait untuk lebih giat menginformasikan kepada masyarakat
tentang pentingnya Asi Eksklusif.
5.
Sosialisasi ke masyarakat mengenai
ASI eksklusif
2.
Upaya Pencegahan dan Pemberantasan
Penyakit Menular dengan nilai 80 %. Untuk program ISPA masih 0 %, ABJ 60 %
Permasalahan ISPA :
1.
Petugas dan masyarakat kurang
mengerti pneumonia
2.
Kebanyakan pneumonia ditemukan di
RS, karena biasanya sudah dalam kondisi buruk, tidak dibawa lewat puskesmas
3.
Pendanaan program ISPA tidak ada
Pemecahan ISPA :
4.
Perlunya sosialisasi pneumonia pada
petugas dan masyarakat.
5.
Dibuat protap diagnosis Pneumonia
6.
Adanya jejaring surveilans pneumonia
tingkat kabupaten
7.
Membuat perencanaan kegiatan melalui
dana yang ada di puskesmas maupun di masyarakat. Contoh : Jamkesmas, Jamkesos,
PNPM, Alokasi Dana Desa
Permasalahan ABJ :
8.
Gerakan PSN hanya terlaksana
situasional bila ada kasus
9.
Perilaku masyarakat yang masih
kurang tentang PSN
Pemecahan ABJ :
10.
Menggalakkan kembali gerakan PSN
11.
Sosialisasi PSN di masyarakat secara
rutin
3.
Kesehatan Jiwa dengan nilai 40 %
Permasalahan :
1.
Pemahaman masyarakat tentang
gangguan jiwa masih kurang
2.
Tidak semua petugas kesehatan
mengetahui tentang gangguan jiwa
3.
Pendanaan untuk Kesehatan Jiwa masih
kurang.
Pemecahan :
4.
Sosialisasikan ke petugas dan
pemegang program terkait untuk lebih giat melakukan penyuluhan tentang gangguan
jiwa ke masyarakat.
5.
Petugas lebih meningkatkan kinerja
dalam hal perencanaan, pelaksanaan , dan evaluasi.
6.
Petugas melakukan kunjungan rumah
dan memotivasi masyarakat agar segera memeriksakan keluarganya bila ada yang
menderita gangguan jiwa
Untuk
kinerja manajemen puskesmas, yang masih sedang adalah manajemen alat dan obat.
Berdasarkan sub variabel, disebabkan inventarisasi barang di ruangan belum ada,
updating barang masih kurang.
Permasalahan :
1.
Kurangnya motivasi dari petugas
inventaris barang untuk mendata.
2.
Tenaga rangkap
Pemecahan
masalah :
1.
Memonitor tugas pokok dan fungsi
dari pengelola barang
2.
Mengusulkan tambahan tenaga
administrasi barang
BAB
V
PENUTUP
PENUTUP
A.Kesimpulan
UPT
Puskesmas Playen II telah melaksanakan penilaian kinerja tahun 2010 dengan
hasil sebagai berikut :
1.
Kinerja cakupan yankes dgn nilai 85,5
% termasuk kategori kinerja Cukup
2.
Kinerja kegiatan manajemen puskesmas
dgn nilai
8,89 termasuk
kategori kinerja Baik
3.
Kinerja mutu yankes dgn nilai 10
Termasuk
kategori
kinerja Baik
1.
Dengan melihat gambaran diatas hasil
kinerja UPT Puskesmas Playen II tahun 2010 dapat dikategorikan perjenis
kegiatan sebagai berikut :
1.
Kategori Kinerja Baik
-
Upaya Kesehatan Lingkungan
- Upaya Kesehatan Ibu & Anak Termasuk KB
-
Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat
-
Upaya Pengobatan
-
Upaya Kesehatan Mata / Pencegahan Kebutaan
-
Perawatan Kesehatan Masyarakat
1.
Kategori Kinerja Cukup
-
Upaya Kesehatan Usia Lanjut
-
Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Gigi
1.
Kategori Kinerja Kurang
-
Promosi Kesehatan
-
Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular
-
Kesehatan Jiwa
5. Untuk kinerja manajemen puskesmas yang termasuk kinerja
sedang adalah manajemen alat dan obat.
B.Saran
dan Usul
·
Monitoring dan evaluasi dari Dinas
Kesehatan Kabupaten lebih diaktifkan.
o Meningkatkan kerjasama lintas program dan lintas sektor
serta
berbagai
upaya untuk lebih meningkatkan partisifasi masyarakat
·
Diharapkan untuk tahun – tahun ke depan,
masing – masing program dapat meningkatkan hasil kinerjanya, terutama untuk
program – program yang hasil pencapaian kegiatannya masih di bawah target
sasaran.
·
Untuk lebih meningkatkan kualiatas
pelayanan dan mengantisipasi segala dampak pembangunan perlu dibuat upaya baru
dalam menanggulangi dan menghadapi masalah – masalah yang timbul.
·
Sumber daya kesehatan perlu terus
ditingkatkan baik kualitas maupun
|
BAB I PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG PENYUSUNAN PROFIL UPT PUSKESMAS PLAYEN II TAHUN
2010
Profil UPT Puskesmas Playen II adalah gambaran situasi kesehatan
di UPT Puskesmas Playen II yang diterbitkan setiap tahun sekali, Dalam Profil
ini memuat berbagai data tentang kesehatan, yang meliputi data derajat
kesehatan, upaya kesehatan dan sumber daya kesehatan. Profil kesehatan juga
menyajikan data pendukung lain yang berhubungan dengan kesehatan seperti data
kependudukan, data sosial ekonomi, data lingkungan dan data lainnya. Data
dianalisis dengan analisis sederhana dan ditampilkan dalam bentuk tabel dan
grafik.
Penerbitan profil UPT Puskesmas Playen II tahun 2010 ini adalah
agar diperoleh gambaran keadaan kesehatan di UPT Puskesmas Playen II khususnya
tahun 2009 dalam bentuk narasi, tabel, dan gambar.
Profil UPT Puskesmas Playen II tahun 2010 diharapkan dapat
memberikan data yang akurat, untuk mengambil keputusan berdasarkan fakta.
Selain itu profil ini dapat digunakan sebagai penyedia data dan informasi dalam
rangka evaluasi perencanaan, pencapaian Program kegiatan di UPT Puskesmas
Playen II tahun 2009 dengan mengacu kepada Visi Indonesia Sehat 2010 .
2.TUJUAN PENYUSUNAN
PROFIL
2.1. Tujuan Umum
Tujuan dari penyusunan Profil UPT Puskesmas Playen II ini adalah
untuk memperoleh dan menghadirkan informasi kesehatan serta faktor-faktor
kesehatan lainnya yang dapat dijadikan sebagai bahan penilaian tercapai atau
tidaknya target kegiatan, yang kelak dapat dijadikan sebagai dasar pertimbangan
untuk menentukan langkah-langkah perencanaan selanjutnya
2.2. Tujuan Khusus
Diperolehnya data/informasi kesehatan di tingkat UPT Puskesmas
Playen II, yang menyangkut data-data sebagai berikut : 1. data/informasi
derajat kesehatan masyarakat 2. data/informasi perilaku masyarakat di bidang
kesehatan 3. data/informasi kesehatan lingkungan 4. data/informasi yang
berkaitan dengan pelayanan kesehatan
3. MANFAAT
Manfaat yang diharapkan dari penyusunan profil ini adalah sebagai
suatu alat yang dapat digunakan untuk mengevaluasi program-program yang telah
dilaksanakan, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam penyusunan
langkah-langkah selanjutnya khususnya pembangunan di bidang kesehatan.Juga
diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk penyusunan Profil
Kesehatan Kabupaten.
4. SISTEMATIKA PENYAJIAN
Untuk memudahkan dalam hal pemahaman terhadap profil ini, maka di
sini dikemukakan gambaran singkat secara keseluruhan tentang isi dari profil,
adapun isi profil masing-masing bab adalah sebagai berikut ini :
Bab I – PENDAHULUAN
Bab ini menyajikan secara singkat tentang latar belakang, tujuan,
manfaat serta sistematika penyajian.
Bab II – GAMBARAN UMUM
Bab ini menyajikan gambaran umum UPT Puskesmas Playen II yang
meliputi keadaan geografi, keadaan penduduk, tingkat pendidikan keadaan ekonomi
Bab III – PEMBANGUNAN
KESEHATAN DI UPT PUSKESMAS PLAYEN II
Bab ini menguraikan secara ringkas Visi dan Misi serta Strategi
UPT Puskesamas Playen II. Selain itu juga diuraikan Program-program Kegiatan
UPT Puskesmas Playen II yang dilaksanakan dalam tahun 2009.
Bab IV – PENCAPAIAN PROGRAM KESEHATAN DI UPT PUSKESMAS PLAYEN II
Bab ini berisi penyajian tentang hasil-hasil yang dicapai oleh UPT
Puskesmas Playen II yang meliputi derajat kesehatan, perilaku masyarakat,
kesehatan lingkungan dan pelayanan kesehatan uraian hasil pelayanan kesehatan
dasar, pelayanan kesehatan rujukan dan penunjang, pemberantasan penyakit
menular, pembinaan kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar, perbaikan gizi
masyarakat, pelayanan kefarmasian dan alat kesehatan, pelayanan kesehatan dalam
situasi bencana. Upaya pelayanan kesehatan yang diuraikan dalam bab ini juga
mengakomodir indikator kinerja Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang kesehatan
serta upaya pelayanan kesehatan lain yang diselenggarakan oleh UPT Puskesmas
Playen II.
Bab V. KESIMPULAN
Bab ini menyajikan hal-hal penting yang perlu disimak dari profil
UPT Puskesmas Playen II di tahun 2010. Selain keberhasilan-keberhasilan yang
perlu dicatat bab ini juga mengemukakan hal-hal yang dianggap masih kurang
dalam rangka upaya mencapai Indikator Indonesia Sehat 2010.
LAMPIRAN
Lampiran berisi seluruh tabel induk yang digunakan dalam
penyusunan Profil UPT Puskesmas Playen II
BAB II
GAMBARAN UMUM UPT PUSKESMAS PLAYEN II
- KEADAAN GEOGRAFIS
UPT
Puskesmas Playen II merupakan salah satu puskesmas yang ada di wilayah
Kecamatan Playen, terletak di sebelah Barat Kota Kecamatan Playen kurang lebih
berjarak 3,5 km tepatnya berada di Padukuhan Sawahan I, Desa Bleberan. Jumlah
wilayah kerjanya meliputi 6 desa, 50 dusun, namun hanya 2 desa yang paling
strategis mengakses ke UPT Puskesmas Playen II yaitu Desa Bleberan dan Dengok,
sedangkan 4 wilayah desa lainnya yaitu Plembutan, Banyusoca, Ngleri dan Getas
selain ke Pustu terdekat (4 pustu) secara geografis lebih mudah mendapatkan
pelayanan ke luar wilayah, baik di Puskesmas Playen I, Paliyan, Patuk I,
Wonosari II maupun RSUD Wonosari, dengan batasannya :
Gambar.1. Peta wilayah Kerja UPT Puskesmas Playen II

·
Sebelah Utara berbatasan dengan
Kecamatan Patuk
·
Sebelah Barat berbatasan dengan
Kabupaten Bantul
·
Sebelah Selatan berbatasan dengan
Kecamatan Panggang dan Paliyan
·
Sebelah Timur berbatasan dengan
Kecamatan Wonosari dan Wilayah kerja UPT Puskesmas Playen I
Gambar. 2. Luas Wilayah Desa (km2)
yang ada di UPT Puskesmas Playen II Tahun 2009
Sumber
data : Kecamatan Playen Dalam Angka 2008
Diagram
di atas memperlihatkan bahwa wilayah terluas adalah Desa Banyusoca, lalu Desa
Bleberan, Ngleri, Getas, Plembutan dan terakhir Desa Dengok. Dengan total
wilayah seluas 63,83 km2
- KEADAAN PENDUDUK
- Kepadatan Penduduk
Jumlah
penduduk yang besar merupakan modal pembangunan, dan juga merupakan beban dalam
pebangunan, karenanya pembangunan diarahkan kepada peningkatan kualitas sumber
daya manusia.
Gambar.3. Jumlah Penduduk Menurut Desa di UPT Puskesmas
Playen II Tahun 2009
Sumber
Data : Profil Kecamatan Playen tahun 2009
Diagram
di atas memperlihatkan jumlah penduduk terbanyak adalah di desa Banyusoca (5711
jiwa), paling sedikit Desa Dengok (1307 jiwa)
Gambar.4. Kepadatan Penduduk Di UPT Puskesmas Playen II
Tahun 2009
Sumber
Data : Profil Kecamatan Playen 2009
Gambar
di atas memperlihatkan Desa Plembutan merupakan Desa yang terpadat penduduknya(
802 jiwa), dan Desa Terjarang adalah Ngleri. Wilayah UPT Puskesmas Playen II
dengan total Penduduk 21002 jiwa, 6695 KK, kepadatan rata-rata 329 jiwa/km2,
rata-rata 3 jiwa /KK
- Keadaan Ekonomi
Gambar. 5. Mata Pencaharian Masyarakat di Wilayah UPT
Puskesmas Playen II Tahun 2009
Sumber data : Kecamatan Playen dalam Angka 2008
Dari Diagram di atas terlihat bahwa mata pencaharian
sebagian besar masyarakat di wilayah UPT Puskesmas Playen II adalah pertanian
5843 orang, pertambangan 146 orang, industry 85 orang dan bangunan 6 orang.
- Sex Ratio
Sex
ratio adalah suatu angka yang menunjukkan perbandingan jenis kelamin. Ratio ini
merupakan perbandingan antara banyaknya penduduk laki-laki dan perempuan di
suatu daerah tertentu.
Dari
gambar 6 di bawah ini terlihat bahwa perempuan lebih banyak daripada laki-laki.
Untuk Desa Banyusoco sex ratio 92,6, Bleberan 91,3, Dengok 91,4, Getas 85,3,
Ngleri 105,2, Plembutan 91,8. Untuk Desa Ngleri jumlah laki-laki lebih banyak
daripada perempuan.
- Dependency Ratio
- Pendidikan
BAB III
PEMBANGUNAN KESEHATAN DI UPT PUSKESMAS PLAYEN II
1.VISI,
MISI DAN STRATEGI UPT PUSKESMAS PLAYEN II
1.1.
Visi : sebagai promotor untuk mewujudkan
masyarakat sehat 2010 di wilayah kerja Puskesmas Playen II
1.2.Misi :
- Menyelenggarakan pelayanan kuratif dan rehabilitatif yang komprehensif berdasar standar kualitas
- menyelenggarakan upaya promotif dan preventif untuk memperkokoh derajad kesehatan masyarakat
- Menyelenggarakan upaya pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan sebagai pilar tercapainya kemandirian masyarakat di bidang kesehatan
1.3.Strategi
- Meningkatkan pelayanan kesehatan (kuratif dan rehabilitatif) di Puskesmas induk
- Meningkatkan pelayanan promotif dan preventif dalam bentuk klinik sehat
- Meningkatkan pelayanan kesehatan (kuratif dan rehabilitatif) di Puskesmas Pembantu dan Puskesmas Keliling.
- Memperkuat jaringan komunikasi dan koordinasi dengan stake holder
- Memperkuat jaringan peran serta masyarakat di bidang kesehatan
2.
BENTUK KEGIATAN
- Meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan (kuratif dan rehabilitatif) di Puskesmas induk
- Mengoptimalkan bentuk pelayanan kesehatan sesuai dengan fasilitas dan kemampuan yang tersedia
1.
Pelayanan registrasi
2.
Pelayanan BP
3.
Pelayanan KIA KB
4.
Pelayanan gigi
5.
Pelayanan imunisasi
6.
Pelayanan laboratorium
7.
Pelayanan farmasi
8.
Pelayanan klinik sehat
- Mengoptimalkan pelayanan UGD (setelah pukul 12.00 hingga 13.30)
- Mengoptimalkan peran SDM sesuai dengan tupoksi pelayanan yang ada
- Melengkapi fasilitas penunjang pelayanan medis secara bertahap
- Mengoptimalkan pelayanan : secara tepat waktu, standar mutu, efisien dan dengan keramah tamahan
- Mengoptimalkan pelayanan rujukan terutama rujukan horisontal (antar lini pelayanan di puskesmas) dalam rangka mendorong optimaliasi pelayanan klinik sehat, dengan tetap mengoptimalkan pelayanan rujukan vertikal.
- Mengoptimalkan koordinasi pada semua lini pelayanan puskesmas.
- Meningkatkan pelayanan promotif dan preventif dalam bentuk klinik sehat
- Mengoptimalkan petugas jaga layanan klinik sehat meliputi :
1.
Konsultasi gizi
2.
Konsultasi sanitasi
3.
Konsultasi PHBS
4.
Konsultasi medis
5.
Konsultasi gigi
6.
Konsultasi KIA dan KB dll.
- Mengupayakan dan mengoptimalkan rujukan kasus dari klinik BP, KIA/KB dan Gigi ke klinik Sehat.
- Melengkapi fasilitas penunjang pelayanan di klinik sanitasi.
- Meningkatkan pelayanan kesehatan (kuratif dan rehabilitatif) di Puskesmas Pembantu dan Puskesmas Keliling.
- Mengoptimalkan bentuk pelayanan kesehatan sesuai dengan fasilitas dan kemampuan yang tersedia di Pustu
- Pelayanan registrasi
- Pelayanan BP
- Pelayanan KIA KB
- Pelayanan gigi
- Mengoptimalkan peranan SDM sesuai dengan tupoksi pelayanan yang ada
- Mengoptimalkan pelayanan di Pustu secara tepat waktu, peningkatan mutu, efisien dan dengan keramah tamahan
- Mengoptimalkan pelayanan Puskesmas keliling terutama pada dusun yang kesulitan mengakses pelayanan kesehatan ke Puskesmas induk/Pustu
- Memperkuat jaringan komunikasi dan koordinasi dengan stake holder
- Mengoptimalkan koordinasi lintas sektoral tingkat kecamatan , secara aktif maupun pasif
- Membangun komunikasi dengan aparat dan lembaga tingkat desa dalam rangka memperoleh dukungan untuk implementasi program kesehatan di tingkat desa.
- Membangun dan meningkatkan tingkat kepercayaan pelayanan puskesmas pada masyarakat melalui tokoh masyarakat
- Memperkuat jaringan peran serta masyarakat di bidang kesehatan
- Membangun komunikasi dan koordinasi dengan kader sebagai jaringan program dan layanan kesehatan pada masyarakat.
- Mengoptimalkan pembinaan petugas puskesmas ke posyandu
- Mengoptimalkan peran petugas pembina wilayah desa
- Mengoptimalkan kerja sama lintas program dalam memberdayakan masyarakat
- Mengoptimalkan jaringan komunikasi dan koordinasi serta pelayanan kesehatan pada institusi pendidikan dan pondok pesantren
BAB IV
PENCAPAIAN PROGRAM KESEHATAN
DI UPT PUSKESMAS PLAYEN II TAHUN 2009
- DERAJAT KESEHATAN
Gambaran
tentang derajat kesehatan meliputi indikator Mortalitas, Morbiditas dan status
gizi. Mortalitas dilihat dari Angka Kematian Bayi (AKB) per 1000 kelahiran
hidup, Angka Kematian Balita per 1000 kelahiran hidup. Morbiditas dilihat dari
indikator angka kesakitan Malaria per 1000 penduduk, angka kesembuhan TB Paru
per 1000 penduduk, Angka Akut Flacid Paralysis (AFP) dan angka kesakitan Demam
Berdarah dengue (DBD) per 100000 penduduk. Sedangkan status Gizi dilihat dari
indikator Persentase Balita dengan Status Gizi di bawah Garis Merah pada KMS,
Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).
- Angka Kematian (Mortalitas)
Angka
kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu dapat memberi gambaran
perkembangan derajat kesehatan masyarakat atau dapat digunakan sebagai
indikator penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan
kesehatan lainnya.
Pada
tahun 2009 terdapat 2 kasus kematian bayi, tidak terdapat kematian ibu hamil,
dan tidak terdapat kematian Balita.
Gambar.11.
Jumlah Kasus Kematian Bayi, Lahir Mati Dan Kematian Ibu Di Wilayah UPT
Puskesmas Playen II Tahun 2006 s.d 2009
Sumber
: Data SIMPUS UPT Puskesmas Playen II tahun 2009
Dari
gambaran di atas terdapat penurunan kasus bayi mati yang disebabkan oleh Berat
Bayi Lahir Rendah (BBLR),
1.1.1.Angka
Kematian Bayi (Infant Mortality Rate)
Angka
kematian bayi merupakan salah satu indikator yang sangat penting untuk mengukur
keberhasilan program kesehatan ibu dan anak, sebab angka kematian bayi
berkaitan erat dengan tingkat kesehatan ibu dan anak. Adapun angka target AKB
tahun 2010 adalah 40 per seribu kelahiran hidup.Angka Kematian Bayi per 1000
kelahiran hidup di wilayah UPT Puskesmas Playen II sangat bervariasi.Pada tahun
2006 terdapat 1 kasus kematian bayi dari 309 kelahiran hidup, tahun 2007
terdapat 5 kasus kematian bayi dari 268 kelahiran hidup, pada tahun 2008
terdapat 3 kasus kematian bayi dari 284 kelahiran hidup, dan pada tahun 2009
terdapat 2 kasus kematian bayi dari 289 kelahiran hidup. Bila dituangkan ke
dalam rumus maka AKB tahun 2006 adalah 3,24 ; tahun 2007 18,66, tahun 2008
10,56, dan tahun 2009 6,92. Ada kecenderungan penurunan kasus. Tetapi ini pun
sudah mencapai target 2010.
Gambar.12.
Angka Kematian Bayi Di Wilayah UPT Puskesmas Playen II Tahun 2006 s.d 2009
Sumber
: Data SIMPUS UPT Puskesmas Playen II tahun 2009
1.1.2.
Angka Kematian Balita
Angka
Kematian Balita adalah jumlah kematian anak umur<5 tahun per 1000 kelahiran
hidup. Angka Kematian Balita menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan anak
dan faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap kesehatan anak balita seperti
gizi, sanitasi, penyakit infeksi dan kecelakaan.
Adapun
target Angka Kematian Balita pada tahun 2010 adalah 58 per 1000 kelahiran
hidup. Sementara berdasarkan data, dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2009 ini
tidak terdapat kematian Balita di wilayah UPT Puskesmas Playen II.
1.1.3.
Angka Kematian IBu (AKI)
Angka
Kematian Ibu adalah jumlah kematian ibu pada masa kehamilan, melahirkan dan
nifas per 100000 kelahiran hidup. Untuk Wilayah UPT Puskesmas Playen II, tahun
2006 dan 2007 tidak terdapat kasus kematian ibu, tetapi pada tahun 2008
terdapat 1 kasus kematian ibu karena eklampsia dari 284 kelahiran hidup (352
per 100000 kelahiran hidup), dan pada tahun 2009 tidak terdapat kasus kematian
ibu.
- Angka Kesakitan (Morbiditas)
Angka
Kesakitan penduduk di dapat dari data SIMPUS, SP2TP (Sistem Pencatatan dan
Pelaporan Puskesmas). Indikator yang digunakan adalah Incidence Rate (IR) dan
Prevalence Rate (PR)
Gambaran
Pola penyakit terbesar di UPT Puskesmas Playen II Tahun 2009 menunjukkan bahwa
ISPA masih mendominasi. Berikut ini adalah tabel 10 besar penyakit di UPT
Puskesmas Playen II tahun 2009.
Tabel.1.
Sepuluh Besar Penyakit Di UPT Puskesmas Playen II Tahun 2009
No.
|
ICD X
|
Diagnosa
|
Jumlah Kasus
|
1
|
J06
|
Infeksi akut lain
pada saluran pernapasan bagian atas
|
4978
|
2
|
M25
|
Gangguan sendi
|
985
|
3
|
M62
|
Penyakit lain pada
jaringan otot dan jaringan pengikat
|
901
|
4
|
K29
|
Gastritis
|
825
|
5
|
R51
|
pusing
|
790
|
6
|
A09
|
diare
|
769
|
7
|
K30
|
Dyspepsia
|
651
|
8
|
J45
|
asma
|
582
|
9
|
R50
|
Demam yang tidak
diketahui sebabnya
|
559
|
10
|
R05
|
batuk
|
475
|
Sumber
: Data SIMPUS UPT Puskesmas Playen II Tahun 2009
1.2.1.Malaria
Tidak
ditemukan adanya kasus malaria di wilayah UPT Puskesmas Playen II. Wilayah UPT
Puskesmas Playen II bukan termasuk daerah endemis malaria.
1.2.2.
Demam Berdarah Dengue (DBD)
Penyakit
Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah Playen II pada tahun 2009 sebesar 3
kasus dari 21002 jiwa (14,28 per 100000 penduduk), tahun 2008 sebesar 7 kasus
dari 25410 jiwa (27,55 per 100000 penduduk), tahun 2007 terdapat 12 kasus dari
27790 jiwa (43,18 per 100000 penduduk). Sedangkan tahun 2006 terdapat 3 kasus
dari 25008 jiwa (12 per 100000 penduduk). Angka ini menurun dibandingkan tahun
sebelumnya 7 kasus. Perlunya menggerakkan kegiatan PSN dan penyuluhan, ditambah
jumlah rumah yang bebas jentik hanya 84 %.
Gambar.13.
Angka Kesakitan DBD Di Wilayah UPT Puskesmas Playen II Tahun 2006 s.d 2009
Sumber
: Data SIMPUS UPT Puskesmas Playen II tahun 2009
1.2.3.
Angka Kesembuhan Penderita TB Paru Positif
Jumlah
kasus TB Paru yang positif pada tahun 2009 terdapat 1 kasus, tahun 2008
sebanyak 3 kasus Angka kesembuhan ini mencapai 100 % (standar SPM untuk tahun
2010 sebesar 85%).
Gambar.14. Jumlah Penderita TBC Di Wilayah UPT Puskesmas
Playen II Tahun 2006 s.d 2009
Sumber : Data SIMPUS UPT Puskesmas Playen II tahun 2009
1.2.4.Angka
Kesakitan Diare
Kasus
Penyakit Diare sebesar 537 kasus dengan191 kasus pada balita. Dari gambar di
bawah dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan kasus diare pada bulan Maret, dan
bulan Oktober.
Gambar.
15. Kasus Diare di Wilayah UPT Puskesmas Playen II Tahun 2009
Sumber
: Data SIMPUS UPT Puskesmas Playen II tahun 2009
1.2.5.
Acute Flaccid Paralysis (AFP)
Hasil
survailans terhadap kasus AFP , tidak ditemukan adanya kasus.
1.2.6.
Kasus HIV
Tidak
ditemukan adanya kasus HIV
1.3.Status
Gizi.
Berbagai
usaha dalam mengatasi masalah gizi telah dilakukan melalui program Usaha
Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK), Pemberian Makanan Tambahan (PMT), Pemberian Kapsul
vit. A, Pemberian tablet Fe. Sebagai Indikator terhadap status gizi bayi
dipergunakan Angka Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), Balita di Bawah Garis Merah
(BGM)
1.3.1.Bayi
dengan BBLR
Terdapat
4 kasus bayi BBLR, tetapi semua sudah dirujuk ke sarana yang lebih lengkap dari
292 bayi yang dilahirkan (1,37%). Desa yang terbanyak kasus BBLRnya adalah
Ngleri 9,09%, Bleberan 1,59 % dan empat desa lainnya tidak ada kasus.
Dibandingkan tahun 2008, terjadi penurunan kasus. Pada tahun 2008 terdapat 8
kasus (2,7 %) di Getas 7,4 %, Dengok (4,2%), Plembutan (2 %), dan Banyusoca
(1,6 %)
Gambar.16.
Kasus BBLR di Wilayah UPT Puskesmas Playen II Tahun 2009
Sumber
: Data SIMPUS UPT Puskesmas Playen II tahun 2009
1.3.2.
Balita di Bawah Garis Merah (BGM)
Pada
tahun 2009 terdapat 45 balita BGM dari 1618 balita (2,78%), tahun 2008 terdapat
45 balita BGM dari 1576 balita (4,01%), tahun 2007 terdapat 40 balita BGM dari
1463 balita (3,31%), tahun 2006 terdapat 52 balita BGM dari 1396 balita
(3,72%)..Jumlah Balita gizi buruk (BB/U) tahun 2009 8 dari 1618 balita (0,49
%), tahun 2008 adalah 8 dari 1475 balita (0,54%), 1,74 % tahun 2007. Balita
gizi kurang 4,61 % (2009),17,15% (2008), 21,85%(2007). Balita gizi baik
85,4%(2009), 76%(2008), 82,1%(2007). Balita gizi lebih 9,98 % (2009), 0,34 %
(2008), 0,36%(2007). Terlihat ada peningkatan pencapaian program gizi 2009
dibanding tahun 2008.
Gambar.17.
Presentase Balita BGM, gizi kurang, gizi baik, gizi lebih dan gizi buruk di
Wilayah UPT Puskesmas Playen II Tahun 2006 s.d 2009
Sumber
: Data SIMPUS UPT Puskesmas Playen II tahun 2009
1.3.3.
Cakupan Ditribusi Vitamin A
Penanggulangan
masalah kekurangan vitamin A dengan pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi
pada anak balita dan ibu nifas merupakan program yang masih terus dilaksanakan,
melalui posyandu dan puskesmas. Cakupan pemberian vitamin A pada balita tahun
2009 100 %.
1.3.4.Presentase
Ibu Hamil yang Mendapat Tablet Besi (Fe)
Upaya
penanggulangan kasus anemia gizi dengan pemberian tablet dan sirup besi
diprioritaskan pada kelompok rawan gizi yaitu ibu hamil dan balita. Pada tahun
2009 Fe3 95,7 %, Fe1 109,6 %.
Tabel.2.
Distribusi Fe 1 dan Fe 3 di Wilayah UPT Puskesmas Playen II Tahun 2006 s.d 2009
No.
|
Tahun
|
Jumlah bumil
|
Fe 1
|
% Fe 1
|
Fe 3
|
% Fe 3
|
1
|
2006
|
405
|
280
|
69.14
|
282
|
69.63
|
2
|
2007
|
363
|
289
|
79.61
|
257
|
70.80
|
3
|
2008
|
359
|
245
|
68.25
|
257
|
71.59
|
4
|
2009
|
303
|
332
|
109,6
|
290
|
95,7
|
Sumber
: Data SIMPUS UPT Puskesmas Playen II tahun 2009
Gambar.18.
Distribusi Fe 1 dan Fe 3 di Wilayah UPT Puskesmas Playen II Tahun 2006 s.d 2009
Sumber
: Data SIMPUS UPT Puskesmas Playen II tahun 2009
- KESEHATAN LINGKUNGAN
Untuk
menggambarkan keadaan lingkungan akan disajikan indikator-indikator presentasi
rumah sehat dan tempat-tempat umum
- Rumah Sehat
Rumah
sehat adalah bangunan rumah tinggal yang memenuhi syarat kesehatan, yaitu rumah
yang memiliki jamban sehat, sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana
pembuangan air limbah, ventilasi rumah yang baik, kepadatan hunian rumah yang
sesuai dan lantai rumah yang tidak terbuat dari tanah. Pada tahun 2006 terdapat
rumah sehat 28.08 %, 2007 29.46 %, 2008 28.08 %, dan tahun 2009 63,53 %.
- Tempat-tempat Umum sehat
Tempat-tempat
umum (TTU) merupakan sarana yang dikunjungi oleh banyak orang, dan
dikhawatirkan dapat menjadi tempat penyebaran penyakit. TTU yang sehat adalah
tempat umum yang memnuhi syarat kesehatan yaitu memiliki sarana air bersih,
tempat pembuangan sampah, sarana oembuangan air limbah, ventilasi yang baik,
luas lantai yang sesuai dan pencahayaan yang baik. Dari beberapa TTU yang
diperiksa masih terdapat beberapa TTU yang masih belum sehat yaitu dari 4 RM
hanya 1 yang sehat, TUPM 50 % sehat.
- PERILAKU MASYARAKAT
Untuk
menggambarkan keadaan perilaku masyarakat yang berpengaruh terhadap derajat
kesehatan, akan disajikan indikator Posyandu, presentase rumah tangga
berperilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), presentase penduduk yang terlindungi
Jaminan Kesehatan.
3.1.Posyandu
Posyandu
merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) yang
paling dikenal yaitu Posyandu. Posyandu menyelenggarakan beberapa kegiatan.
Posyandu dikelompokkan menjadi 4 tingkat perkembangan yaitu pratama, madya,
purnama dan mandiri.
Dari
50 posyandu yang ada di wilayah UPT Puskesmas Playen II, 0 Pratama (0 %), 21
Madya (42%), 28 Purnama(56%), 1 Mandiri (2%)
3.2. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Tingkat
kesehatan rumah dan lingkungan antara lain tercermin dari banyaknya rumah
tangga yang telah melaksanakan paling sedikit 7 dari 10 indikator Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Secara keseluruhan jumlah Rumah Tangga 5982
diperiksa. Berdasarkan hasil pemeriksaan dari rumah yang diperiksa telah dapat
diketahui bahwa rumah yang sehat adalah sebesar 65,53% . Kemudian yang menjadi
masalahah pokok adalah kebiasaan merokok.
3.3. Penduduk yang Terlindungi Jaminan Kesehatan
Masyarakat
terlindungi oleh Jaminan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS), Jaminan Kesehatan
Sosial (JAMKESOS), ASKES PNS dan juga Program Keluarga Harapan.
- AKSES DAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN
Jumlah
penduduk yang memanfaatkan UPT Puskesmas Playen II sebesar 23165 orang, 24388
orang (2008), 16977 orang (2007). .Jumlah pengunjung pasien gangguan jiwa di
Puskemas pada tahun 2009 adalah 136 orang Terdapat 4 pustu, 6 poskesdes, 1 BP,
4 BPS.
Gambar. 19.Kunjungan Pasien di UPT Puskesmas Playen II Tahun
2009
Sumber
: Data SIMPUS UPT Puskesmas Playen II
- PELAYANAN KESEHATAN
5.1.Pelayanan Antenatal
Pelayanan
antenatal mencakup pemberian pelayanan terhadap ibu hamil saat kunjungan
pertama (K1) dan kunjungan ulangan yang ke empat kali (K4). Cakupan K1
menggambarkan tingkat keaktifan petugas pelayanan kesehatan tahun 2009 327
kunjungan (103,55%) , K4 297 kunjungan(105,32%) dari 282 bumil yang ada Tahun
2008 284 kunjungan (79,11%), K4 279 kunjungan (77.12%) dari 359 bumil yang ada.
Telah mencapai target.
5.2. Pertolongan Persalinan
Proporsi
persalinan yang ditangani oleh tenaga kesehatan merupakan salah satu upaya
untuk penurunan angka kematian ibu dan bayi. Target persalinan oleh nakes tahun
2009 mengacu pada SPM adalah 80% . Persalinan oleh tenaga kesehatan berdasarkan
data tahun 2009 sebesar 98,97% sehingga sudah mencapai target, tetapi bila
dibandingkan dengan tahun 2006 93,87%, 2007 98,14 %, 2008 97,59 % terjadi
peningkatan.
Tabel. 3.Presentase Linakes Wilayah UPT Puskesmas Playen II
Tahun 2009
JUMLAH
|
PERTOLONGAN PERSALINAN
|
|||
NO
|
DESA
|
PERSALINAN
|
OLEH TENAGA KESEHATAN
|
|
JUMLAH
|
%
|
|||
1
|
3
|
4
|
5
|
6
|
1
|
Banyusoca
|
57
|
56
|
98,25%
|
2
|
Bleberan
|
63
|
61
|
96,83%
|
3
|
Dengok
|
30
|
30
|
100,00%
|
4
|
Getas
|
60
|
60
|
100,00%
|
5
|
Ngleri
|
33
|
33
|
100,00%
|
6
|
Plembutan
|
49
|
49
|
100,00%
|
JUMLAH
|
292
|
289
|
98,97%
|
|
Sumber
: Data SIMPUS UPT Puskesmas Playen II tahun 2009
5.3. Cakupan Pemeriksaan Neonatal (KN)
Cakupan
pemeriksaan neonatal adalah persentase neonatal yang mendapatkan pelayanan
kesehatan minimal 2 kali yang digunakan untuk melihat jangkauan dan kualitas
pelayanan terhadap bayi umur kurang dari 1 bulan.
Cakupan
pemeriksaan neonatal dengan indikator kunjungan neonates pertama (KN 1) dengan
sasaran bayi umur 0-7 hari dan KN 2 dengan sasaran bayi umur 8-28 hari. Ini
ditujukan untuk melihat jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan neonatal.
Cakupan KN tahun 2009 284 bayi dari 289 bayi (98,27 %)dan 2008 adalah 266 bayi
dari 294 bayi (90.48%). Terdapat peningkatan.
5.4.Imunisasi
Imunisasi
merupakan upaya perlindungan yang diberikan kepada kelompok beresiko tinggi
terhadap serangan penyakit khususnya dalam rangka menurunkan angka kesakitan
bayi dan ibu serta menjaga penularannnya, yang pada akhirnya menurunkan angka
kematian bayi dan ibu. Cakupan pelayanan imunisasi dapat diukur dengan
presentase desa yang telah UCI dengan indikator seluruh bayi yang ada 90 %
mendapatkan imunisasi lengkap. Semua Desa telah UCI.
5.4.1.Cakupan Imunisasi Bumil (TT1 dan TT2)
Cakupan
pemberian imunisasi TT1 pada bumil tahun 2009 68,3 %, 2008 70.47%, 2007 76.86%,
2006 49.88%. Terjadi penurunan dibanding tahun sebelumnya. Cakupan pemberian
imunisasi TT2 pada bumil tahun 2009 69 %, 2008 68.25%, 2007 71.35% dan 2006
43.95 %. Terjadi peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
Gambar.20. Cakupan Imunisasi TT1 dan TT2 di Wilayah UPT
Puskesmas Playen II Tahun 2006 s.d 2009
Sumber
: Data SIMPUS UPT Puskesmas Playen II tahun 2009
5.5.Bayi dengan ASI Eksklusif
Air
Susu Ibu (ASI) adalah ASIyang diberikan kepada bayi secara terus menerus selama
6 bulan. Untuk Wilayah UPT Puskesmas Playen II didapatkan data ada 19,58 %yang
diberi ASI Eksklusif, menurun dibanding tahun 2008 (44%).
Tabel.4. Bayi yang Mendapatkan ASI Eksklusif wilayah UPT
Puskesmas Playen II Tahun 2009
NO
|
DESA
|
JUMLAH BAYI (0-11 bulan)
|
jumlah bayi 0-6 bulan
|
JUMLAH BAYI YANG DIBERI ASI
EKSKLUSIF
|
|
JUMLAH
|
%
|
||||
1
|
2
|
4
|
5
|
6
|
7
|
1
|
Banyusoca
|
56
|
31
|
5
|
16,13%
|
2
|
Bleberan
|
61
|
28
|
6
|
21,43%
|
3
|
Dengok
|
30
|
27
|
6
|
22,22%
|
4
|
Getas
|
60
|
13
|
2
|
15,38%
|
5
|
Ngleri
|
33
|
15
|
3
|
20,00%
|
6
|
Plembutan
|
51
|
29
|
6
|
20,69%
|
JUMLAH
|
291
|
143
|
28
|
19,58%
|
|
Sumber
: Data SIMPUS UPT Puskesmas Playen II tahun 2009
- SUMBER DAYA KESEHATAN
Indikator
sumberdaya kesehatan terdiri atas rasio dokter, dokter spesialis, dokter
keluarga, dokter gigi, apoteker, perawat ahli, ahli sanitasi, dan ahli
kesehatan masyarakat per 100000 penduduk. Kecukupan tenaga kesehatan merupakan
hal yang perlu menjadi perhatian
Tabel.5. Ratio Tenaga Kesehatan di UPT Puskesmas Playen II
Tahun 2009
No.
|
Indikator
|
Pembilang
|
Penyebut
|
Ratio
|
Target
2010
|
1
|
Ratio
dokter per 100000 penduduk
|
2
|
21002
|
9,52
|
40
|
2
|
Ratio
dokter gigi per 100000 penduduk
|
1
|
21002
|
4,76
|
|
3
|
Rasio
bidan per 100000 penduduk
|
8
|
21002
|
38,09
|
100
|
4
|
Rasio
perawat per 100000 penduduk
|
4
|
21002
|
19,05
|
117
|
5
|
Rasio
ahli gizi per 100000 penduduk
|
1
|
21002
|
4,76
|
|
6
|
Rasio
ahli sanitasi per 100000 penduduk
|
1
|
21002
|
4,76
|
Sumber
: Data SIMPUS UPT Puskesmas Playen II
Dari
tabel di atas dapat dilihat bahwa kecukupan tenaga kesehatan di UPT Puskesmas
Playen II masih belum memenuhi syarat/standar.Tetapi apabila dilihat berdasarkan
analisa jabatan sudah mencukupi, tetapi untuk tenaga administrasi dan cleaning
service masih kurang.
Total
anggaran kesehatan di UPT Puskesmas Playen II tahun 2009 terdiri dari anggaran
kesehatan Kabupaten/Kota yang bersumber dari anggaran APBD, APBN, Hanya saja
semenjak Kepala Puskesmas menjadi Kuasa Pengguna Anggaran, serapan dana dari
APBD menurun, dikarenakan ketrampilan teknis dari tenaga yang ada di puskesmas
kurang.
- PELAYANAN KELUARGA BERENCANA
Keberhasilan
program KB diukur dengan beberapa indicator, di antaranya proporsi peserta KB
baru menurut metode kontrasepsi, presentase cakupan peserta KB aktif terhadap
PUS, dan persentase peserta KB baru metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP).
Tahun
2009 terdapat PUS sebanyak 4566 terdiri dari peserta KB baru 537 (98,9 %) ,
peserta KB aktif 3483 (76,28 %) ,
Gambar.21. Peserta KB Aktif Berdasarkan Metode Kontrasepsi
Tahun 2009
Sumber
: Data SIMPUS UPT Puskesmas Playen II Tahun 2009